Hati yang penuh syukur, bukan saja merupakan kebajikan yang terbesar, melainkan merupakan pula induk segala kebajikan yang lain.
(Cicero)

Menikmati Kabar Kabur dari Televisi  

Minggu, 05 Agustus 2007

Para industrialis media utamanya media televisi rupanya meyakini bahwa sebagian besar penonton televisi di Indonesia adalah insan yang haus akan berita dan sekaligus hiburan. Maka lahirlah sebuah gaya atau genre jurnalisme televise yang bertitel jurnalisme infotainment. Gaya pemberitaan ini merupakan paduan antara informasi dan hiburan yang terbukti ampuh untuk merebut hati (baca : mata dan telingga) para pemirsanya.

Infotainment kini telah berkembang menjadi semacam obat pelipur lara bagi pemirsa ditengah-tengah sebagian acara televisi yang mencekam bak horror karena dipenuhi tayangan berbau setan dan sepak terjang pelaku kriminal yang memiriskan hati, sorak tangis anak muda dan pendukungnya yang bernafsu menjadi bintang, berita bencana yang terjadi di mana-mana dan tingkah polah partai, politisi dan pemerintah yang bikin dahi berkenyit. Penonton rupanya juga mulai bosan dengan tayangan sinetron yang sering tidak masuk akal jalan ceritanya, mengobrak-abrik perasaan tanpa logika dan hanya berputar-putar pada masalah itu-itu saja demi memperpanjang episode.

Secara perlahan infotainment mulai mencuri perhatian. Dengan teknik investigasi yang gigih, serius, tak kenal lelah bahkan seperti bisa menandingi para agen rahasia dan investigasi berita politik, infotainment mampu menghadirkan narasi, gambar dan dramatisasi yang memenuhi kebutuhan pemirsanya. Lihat saja bagaimana awak infotainment begitu all out berjuang untuk memenuhi rasa penasaran pemirsa atas gonjang-ganjing kehidupan asmara para selebriti. Mereka tahan berhari-hari duduk menunggu datangnya konfirmasi, rela memanjat pagar dan berhadapan dengan garangnya bodyguards demi mendapat gambar terbaik. Narasumber untuk menambah multiplot dramaturgi terus diburu bahkan orang-orang yang selama ini tidak termasuk dalam daftar sumber berita juga diwawancarai dengan serius.

Mengintip Ramai-Ramai
Diam-diam atau sembunyi-sembunyi mengamati aktivitas orang lain adalah naluri dasar yang tersembunyi dalam diri manusia. Hasil jibaku awak infotaninment yang tak kenal lelah yang disiarkan layaknya siklus program berita dari pagi, siang, sore, petang dan malam hari mampu menyediakan bahan untuk memelihara naluri dasar tadi. Harus diakui model investigasi jurnalisme infotainment yang masih berumur muda ini telah menghasilkan berita-berita yang mencenggangkan. Skandal-skandal yang dalam tersembunyi mampu mereka bongkar dan tak mungkin disangkal lagi. Jika saja diarena tinju mereka nampaknya telah memukul KO kerja-kerja aparat penegak hukum dalam membongkar skandal korupsi di negeri ini. Lewat kerja awak infotainment kita bisa mengintip perilaku dua insan berlainan jenis di sebuah kamar hotel. Dan gambar berdurasi tidak lebih dari satu setengah menit itu ternyata mempunyai kekuatan yang jauh lebih besar dari ribuan demonstran, karena tanpa orasi yang berkepanjang ternyata berhasil mencabut tahta anggota DPR RI dari kursi empuknya.

Lewat sajian infotainment masyarakat bisa mengintip secara berjamaah (baca : beramai-ramai) ruang kehidupan yang selama ini tersembunyi atau bahkan tabu untuk dibicarakan. Drama kehidupan perkawinan artis, lika-liku kisah asmara, perselingkuhan, jeratan hukum bahkan kriminalisasi kasusnya tersaji begitu saja di depan mata kita. Bahkan ada sebagaian selebritis yang sengaja mempertontonkan aibnya agar mendapat perhatian dari pemirsa (baca : berharap popularitasnya kembali terdongkrak). Akibatnya suara-suara para pihak yang merasa terlanggar privasinya justru ditanggapi sebagai bentuk penyangkalan, penyembunyian kenyataan dan bahkan dipolitisasi sebagai bentuk ’pembohongan publik’. Tayangan infotainment menghadirkan kenikmatan mengintip tanpa kehawatiran untuk tertangkap basah.

Masyarakat Gossip
Ditinjau dari sisi tingkat budaya yang dipraktekkan, pada dasarnya sebagian besar masyarakat kita masih berada dalam tataran budaya oral. Maka model jurnalisme yang lazim dipraktekkan di Indonesia adalah jurnalisme omongan (Talk Journalism). Infotainment berangkat dari watak fundamental ini dengan menghadirnya pada ruang kehidupan masyarakat sehari-hari. Berita infotainment menjadi lebih kuat dari bius sinema (film bioskop) karena tidak memaksa pemirsa duduk diam dalam ruang gelap yang mengarahkan mata secara tunggal pada layar.

Setiap orang pada dasarnya mempunyai keinginan untuk berperan serta sekecil apapun peran itu. Layar televisi menjadi tabung elektronik yang menghadirkan kesempatan itu lewat hadirnya tayangan infotainment dengan gossip sebagai bahan bakunya. Gossip telah merubah pemirsa dari subyek pasif menjadi subyek aktif dalam hubungannya dengan program televisi. Dalam tayangan infotainment pemirsa bisa merasa terlibat dan tidak berjarak dengan kehidupan para selibriti (pujaan atau idolanya) lewat bangunan relasi kesamaan-kesamaan dengan kehidupan dirinya.

Interaksi akan semakin menjadi lebih nyata karena pada umumnya tayangan gosip juga memberi ruang komunikasi. Tidak sekedar suara tetapi juga gambar nyata, sebab seseorang siapapun dia bisa punya kesempatan untuk ’masuk TV’ jika mempunyai informasi yang valid berkaitan dengan issue yang sedang dibahas. Infotainment telah menghadirkan ruang bagi keasyikan mulut untuk membicarakan orang lain yang bebas dari ruang bisik-bisik. Maka kini di negara yang katanya dipenuhi dengan adat ketimuran yang oleh karenanya membicarakan urusan orang lain dianggap sebagai tidak sopan ternyata tidak demikian adanya.

Obat Penenang Penderitaan Sosial
Informasi bergambar dan bersuara yang hadir lewat televisi kita umumnya menyajikan gambaran ektrimitas. Pada satu sisi banyak tayangan yang hadir menyajikan mimpi yang melambung namun disisi lain banyak juga yang memiriskan hati lewat sajian berbagai macam derita lewat kabar bencana, kekerasan, kejahatan keji, ketidakpastian hukum, carut marut politik, ketidakmampuan pemerintah mengendalikan harga kebutuhan pokok dan deretan frustasi lainnya yang terkuat lewat demonstrasi di sana-sini.

Dari sisi ’media habit’, kemungkinan besar televisi adalah media mainstreams yang paling banyak dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia. Dengan segenap kelebihannya televisi bisa secara terus menerus menghadirkan hiruk-pikuk kehidupan. Produsen infotainment adalah sosok yang menyadari bahwa masyarakat pemirsa televisi adalah masyarakat yang dadanya telah sesak menyaksikan segenap tayangan dan pemberitaan di layar televisi. Sebagai contoh ibu-ibu rumah tangga, jikalau rajin menonton televisi pasti akan menjadi ’orang stess’ karena sedikit-sedikit ada pemberitaan soal naiknya berbagai macam kebutuhan pokok yang sulit untuk dikendalikan. Belum lagi berita kejahatan seksual dan gaya hidup (narkoba, seks usia dini, dugem, dll) yang banyak mengancam anak-anaknya saat lepas dari pengawasan orang tua. Dalam kondisi seperti ini dengan cerdiknya para produsen infotainment menghadirkan tayangan pelipur lara. Infotainment menyajikan gambaran kehidupan ’para bintang’ secara gamblang, bahwa selebriti yang ganteng, cantik dan nampak bahagia ternyata juga bisa dirundung derita, patah hati, terjebak dalam kejahatan, diduakan, tersandung utang dan lain sebagainya.

Refleksi kehidupan nyata selebritis yang merupakan bintang pujaan, tokoh idola dan anutan yang ternyata hidupnya tidak mulus paling tidak hadir sebagai pelipur lara bagi para pemirsanya. Wajarlah jika kita sebagai masyarakat biasa (baca : dalam bahasa Tukul dikatakan sebagai katrok dan ndeso) ini sulit hidupnya sebab ternyata selebritipun demikian adanya. Infotainment hadir bak ’obat penenang’ bagi masyarakat lewat kehadiran pernak-pernik kehidupan selebriti yang ternyata mirip dengan ’derita sosial’ masyarakat biasa. Dan kini adalah tugas para selibriti (baca : dari dunia politik dan pemerintahan) untuk berolah pikir dan kebijakan guna menghasilkan ’obat penyembuh’ yang sesungguhnya bagi segenap penderitaan sosial masyarakatnya.

AddThis Social Bookmark Button

Email this post


 

Design by Amanda @ Blogger Buster

Google Custom Search

Kolom blog tutorial